Rabu, 15 April 2009

Kasus Akdemik Pertamax

Pertamax...

hehehe..kaya bahasa kaskus-ers (padahal gw ga pernah ikutan kaskus atau forum semacamnya)

Hari ini, aku dan beberapa temanku menghadap ke kordas lab elektronika kami dengan wajah puat dan jantung deg-degan tapi hati penuh harap. Kenapa? Begini eritanya..

Jadi beberapa hari yang lalu (hari selasa 1 minggu sebelum tulisan ini ditulis), aku dan beberapa kawanku mengerjakan tugas pendahuluan buat praktikum kami untuk keesokan harinya. Pekerjaan dilakukan di kost-an sangkuriang No. 46 (untuk selanjutnya disebut lokasi atau TKP. hehehe..). Kami mengerjakan beberapa jumlah pertanyaan yang sebenarnya sedikit namun cukup menggugah pemikiran analitis kami. Kami mengerjakan tugas tersebut hingga subuh hari (pukul 03.00 WIB). Melihat tidak kuatnya badan kami untuk melanjutkan pekerjaan kami, dan hari esok yang akan kami alami aakan cukup berat, maka kami menganggap tugas itu sudah cukup dan sudah bisa dikumpulkan keesokan harinya.

Keesokan harinya, kami bangun pukul setengah 7 pagi dengan masih pegal-pegal. Alhasil melihat waktu yang sudah cukup mepet, kami memutuskan untuk mengeprint tugas pendahuluan kami secepatnya lalu ikutan praktikum dengan baik-baik. Namun, alangkah bodohnya kami, tugas tersebut ternyata mirip sekali (ya iyalah..wong kerja bareng dan mikir bareng dan ngetik bareng. Terus kagak diedit sedikitpun lagi). Seteah selesai praktikum, akhirnya kamipun berlibur ria dan balik ke kampung halaman masing-masing.

Nasib naas ternyata kami alami ketika kami masuk kembali ke kampus. Koordinator laboratorium kami (gak usah disebut namanya, kagak etis), melihat pekerjaan yang mirip tersebut. Beliau mengira kami melakukan kecurangan akademis pada praktikum tersebut. Alhasil kami pun dimasukkan ke dalam pengumuman sebagai mahasiswa 'terpidana' yang tidak akan lulus mata kuliah tersebut. Maka, aku dan temanku menjerit ketakutan ukan main (hiiii...bergidik tahu mendengar kata-kata tidak lulus). Sehingga, untuk mengklarifikasi masalah tersebut, kamipun berinisiatif untuk menemui kordas dahulu sebelum menemui korlab.

Dari hasil pembicaraan kami dengan kordas, terkesan kami memang melakukan beberapa kesalahan. Terutama dalam masalah "kemauan berusaha" dan "tindakan meremehkan". Hal itu terlihat jelas dari usaha kami. Setelah berincang-bincang dengan kordas, pembicaraan kami menemui jalan buntu dan rencananya akan langsung ditanyakan kepada korlab mengenai kelanjutanstatus kami di mata kuliah ini (standing applause buat kakak kordas yang udah mau bantuin kami). Yah berharap aja agar korlab mau memberi semacam "keringanan" seperti tugas tambahan atau mungkin memuat nilai modul kami 0. Itu saja sudah cukup.

Dari pengalaman hari ini, saya secara pribadi mendapatkan banyak pelajaran, yaitu:
1. JANGAN PERNAH MEREMEHKAN HAL KECIL. Dari contoh ini saja sudah jelas bahwa ketika kami meremehkan hal kecil, hasilnya akan berdampak kacau banget. Sebenarnya banyak sih contoh lain yang menggambarkan ini (teleskop Hubble, Paten ell, dan lain-lain)

2. KORDAS KAMI BAIK SEKALI. Dari hasil pemicaraan kami, terlihat bahwa beliau sebenarnya sangat berniat baik kepada kami. Beliau rela meela anak didiknya biar mendapatkan hal yang terbaik dalam studinya (nilai). Two Thumbs Up buat kordas kami!!!!!

3. KORLAB KAMI SANGAT PERHATIAN PADA KAMI. Ketika kami berbicara tentang keputusan beliau dan apa yang beliau katakan ketika mengambil keputusan itu, seketika itu juga semua paradigma kami yang salah pada beliau seakan-akan mulai bergeser. Beliau menyatakan, tindakan "copy paste" yang dilakukan oleh akademisi sebenarnya adalah tindakan yang keterlaluan. Hal ini sama saja dengan memperbolehkan tindakan pencurian terjadi di semua level kehidupan. Hal ini menjadi lebih keterlaluan lagi jika terjadi di perguruan-perguruan tinggi yang memiliki pengaruh di suatu negara (mau kemana nasib bangsa ini kalo anak didiknya kayak gini terus). Beliau menginginkan anak didiknya memiliki integritas di semua level kehidupan. Two Thumbs Up buat korlab kami....

4. PEGANG DAN PERHATIKAN NASEHAT-NASEHAT. Sebelumnya kordas kami telah menyatakan berulang kali tentang tindakan kecurangan akademis dan bagaimana sebenarnya tindakan yang benar, mendidik, dan menguntungkan bagi kami para akademisi. Karena kami tak begitu memperhatikan dan meng "iya" kan nasehat beliau, akhir kata kami justru terjebak dalam masalah ini.

Huff... semiga ini semua bisa berlalu deh...

Ye......

Tidak ada komentar: